Entah kenapa hari ini gue pengen bgt nulis soal bagaimana cara mengambil keputusan yang baik. Mungkin ini efek dari kejadian sebelumnya, dimana gue harus mengambil keputusan yang bener bener ngebuat gue bimbang, galau, gamang, dan itu perlu banget buat berfikir panjang buat menentukan sebuah keputusan.
Ya, kehidupan manusia itu selalu dikelilingi oleh pengambilan sebuah keputusan. Mulai dari pengambilan keputusan secara cepat maupun jangka panjang. Mulai dari pengambilan keputusan yang kita sadari maupun tanpa kita sadari. Dan Mulai dari bangun tidur sampai kembali tertidur, kita selalu mengambil keputusan. Gak percaya? hmm . . coba deh kalian telusuri hari ini. Mulai dari bangun, kalian pasti menentukan mau ngapain aja hari ini, mau pake baju apa, mau makan apa, dan lain sebagainya. Mungkin tanpa kita sadari, kegiatan sehari-hari kita tersebut telah beresentuhan dengan pengambilan sebuah keputusan.
Untuk itu, posting gue buat hari ini adalah gue ingin memberikan sebuah tips buat kalian semua, my readers, bagaimana cara mengambil sebuah keputusan yang baik ala gue, hehe... So Lets check this out Palz!
1. Increase your mood
Ini adalah hal pertama yg harus di lakukan. Knp? karena dengan mood yang baik, kita dapat mengambil keputusan secara baik,cermat,dan jernih agar tidak salah langkah. Membangun mood dapat di lakukan sesuai kesukaan masing-masing. Bisa dengan melakukan hobby, atau berpergian ke tempat yg cozy.. its up to you palz.
2. Take a deep breath
Setelah mood kalian good-well, kalian bisa mulai tahap brainstorming untuk megambil keputusan. Sebelumnya awali dengan menarik nafas dalam-dalam. Hal itu dapat membuat kalian relax sebelum berfikir.
3. Think in terms of criticism and critical
Pada tahap brainstorming, kita harus berfikir secara kritik dan kritis dalam setiap keputusan yang kita ambil. Hal ini diperlukan agar kita tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Palz.. jangan lupa juga harus cermat ya!
4. Involve your GOD!
Jangan lupa palz, kita wajib melibatkan Tuhan dalam segala keputusan yang kita buat. Tuhanlah yang mengatur takdir kan? so ga ada salahnya kita berdoa, meminta petunjukNYA di setiap keputusan agar tak salah langkah dan dipermudah jalan kita.
5. Find someone who you trust can help your problem
Kalau kamu ngerasa permasalahan terlalu pelik dan masih sulit untuk mengambil keputusan, gak ada salahnya kalo lo cari orang yg lo percaya dapat memberi masukan yang bijak dalam masalah lo. Karena dengan pendapat dari orang lain setidaknya dapat lebih mempermudah kita dalam menentukan keputusan. Bahkan seringkali pendapat oranglain bisa melegakan hati karena pendapatnya sangat sangat membantu.
Semoga apa yang gue share hari ini buat kalian semua, my readers, bermanfaat buat kalian semua khususnya buat gue. Buat yang mau leave comment silakan.. i'll accept it. thanks for reading. Jangan bosen-bosen kunjungi blog gue ya. Happy fasting all!
Rabu, 17 Agustus 2011
Jumat, 17 Juni 2011
Public Speaking -Preparation
Saat ini makin banyak orang yang tertarik untuk mempelajari seni berbicara didepan orang banyak (publik). Tak terbayangkan sebelumnya bicara yang merupakan rahmat yang diberikan oleh tuhan kepada hampir semua umatnya semenjak ia dilahirkan, harus dipelajari secara khusus. Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, kursus-kursus singkat “Public Speaking” akhir-akhir ini begitu diminati, baik oleh masyarakat biasa maupun professional.
Kesadaran masyarakat tentang pentingnya berbicara yang baik dan efisien didepan orang banyak, tumbuh setelah mereka melihat begitu banyak persoalan pelik yang dapat dijelaskan hanya dengan berbicara. Mereka juga mendapatkan tempat terhormat di masyarakat. Namun banyak pula yang merasakan pentingnya mampu berbicara dengan baik karena tuntutan tugas dan profesinya.
Beberapa tips di bawah mungkin dapat membantu “PERCEPATAN” proses latihan anda di dunia public speaking:
*1. Persiapan yang maksimal*
Persiapan yang baik adalah kunci dari penampilan yang meyakinkan. Audiense dengan mudah mengetahui pembicara yang melakukan ”pekerjaan rumah” dengan tampil seadanya. Seorang dengan persiapan optimum akan tampil penuh percaya diri, kata-kata yang diucapkannya mengalir penuh arti disertai mimik yang pas. Sebaliknya, seseorang yang tampil tanpa persiapan yang matang akan tampil grogi, cara berbicara tidak struktural dan esensial, tidak berani mendekati inti permasalahan dan tidak berani menatap mata audiensenya.
*Perlu diketahui berapapun besarnya bakat yang anda punya sebgai pembicara, penampilan yang sukses didapatkan melalui 1% inspirasi 99% melalui persiapan.*
Persiapan yang perlu dilalukan meliputi ;
*1a. Tempat dimana kita akan berbicara*
Pastikan anda mengetahui dengan pasti tempat dimana anda menjadi pembicara, melakukan orasi atau mempresentasikan sesuatu. Anda harus mengetahui apakah tempatnya terbuka, tertutup, ramah, tidak bersahabat dsb. Setiap jenis tempat mempunyai karakter dan penanganan tersendiri yang membutuhkan persiapan tersendiri pula.
Tempat terbuka mengharuskan anda berpakaian yang tidak terlalu tebal. Karena audiensenya yang relatif besar sehuingga susah dikontrol, bersiaplah bebicara dengan volume yang keras dan lantang. Tempat tertutup memungkinkan anda memakai busana yang sedikit tebal (jas, blaser dsb) dan berbicara lebih /private/. Tempat yang tidak ramah misalnya audiensenya dipastikan kebanyakan bukan dari kalangan ”pecinta” anda, mengharuskan anda untuk kerja ekstra. Persiapkan jurus-jurus apabila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Seorang pembicara seperti halnya seorang penyanyi terkadang harus tampil di satu tempat dimana audiensenya tidak selalu ramah.
*Sebagai seorang pembicara, anda harus mengenal medan dimana anda akan berbicara. Hadir paling tidak satu jam sebelum acara dimulai yang dapat anda gunakan untuk melihat situasi tempat anda akan berbicara serta alat-alat bantu yang akan anda gunakan. Hal ini akan sangat membantu anda dalam mengurangi kegugupan.*
* 1b. Materi yang dibicarakan*
Kumpulkan semua sumber informasi yang berhubungan dengan materi yang anda antarkan. Lakukan riset kecil untuk melengkapi referensi-referensi yang sudah anda punyai. Makin banyak informasi makin baik. Rangkum informasi-informasi tersebut dan hafalkan bagian yang akan anda jadikan intro/pembukaan.
Ciptakan sesuatu yang merebut hati audiense (spals/ice breaker) pada saat pertama anda bicara. spals/ice breaker tersebut bisa berbentuk interaksi langsung dengan mereka, cerita-cerita lucu yang berhubungan dengan anda atau materi yang hendak disampaikan, gerakan-gerakan kecil atau menyanyi. spals/ice breaker terkesan spontan padahal sebenarnya ia telah dipersiapkan sebelumnya. Ia adalah bagian dari pekerjaan rumah anda. Kalau anda berhasil melakukannya, sisa dari waktu anda berbicara akan menjadi milik anda.
*1c. Audiense*
Kenli audiense anda sebelum anda bicara. Dapatkan informasi sebanyak mungkin tentang publik yang akan menjadi audiense anda. Dengan mengetahuinya, maka anda akan mampu berbicara dengan pola yang mereka kehendaki. Sebelum naik ke mimbar/panggung, pastikan anda mempunyai waktu untuk bersosialisasi dengan beberapa dari mereka. Perkenalan ini akan membuat anda merasa bagian dari mereka dan ini juga ternyata ampuh untuk mengurangi rasa gugup anda.
*1d. Penampilan fisik*
Ketika anda pertama kali muncul, yang pertama kali akan dinilai oleh audiense adalah penampilan fisik anda. Penilaian ini sudah berlangsung sebelum anda sendiri mulai berbicara. Oleh karena itu pakailah pakaian yang sesuai dengan jenis materi yang akan dibawakan, waktu, tempat dan audiense anda. Perhatikan pula kebersihan dan kerapian tubuh anda dari mulai kuku, rambut, make up serta cara berjalan. Ini adalah saat yang paling genting tapi bisa dimanfaatkan sebagai permulaan yang positif. Inilah saat dimana perhatian audiense anda belum terpecah. Mereka begitu antusias menantikan apa yang hendak anda sampaikan. Oleh karena itu, manfaatkanlah!
*2. Antusiasme*
Tunjukan antusiasme pada waktu berbicara walaupun topik yang anda bawakan kurang bermutu atau terlalu dangkal bagi anda. Sikap anthusisme akan menciptakan respect dari audiense. Sebaliknya sikap anda yang ogah-ogahan atau menganggap remeh hanya akan membuat audiense menyesal ikut dalam forum dimana anda bebicara. Yang lebih tidak baik apabila untuk hadir dalam forum tersebut ia harus membayar. Lebih baik anda menolak daripada anda menerima menjadi pembicara dengan attitude demikian.
*3. Berlatih dan berlatih*
Seorang pembicara hampir sama dengan penerbang (pilot). Makin tinggi jam terbangnya, makin mulus pula take off dan landing serta semakin pintar dalam menghadapi setiap krisis yang timbul. Demikian juga dengan seorang pembicara, makin sering ia latihan dan tampil, makin mahir ia berbicara, bertindak, dan bersikap.
Latihan yang lumrah dilakukan oleh para pembicara dan aktor profesional dan dapat dengan mudah anda lakukan, adalah berbicara didepan cermin atau didepan handycam. Mereka berbicara selama 1 menit dengan topik yang dipilih sendiri, misalnya ”apa yang telah saya capai selama ini?” atau ”apa target hidup saya?”. Coba anda lakukan ini. Berbicara sepertinya anda melakukan didepan publik. Setelah anda bicara atau rekam kalau anda menggunakan handycam, posisikan diri anda sebagai orang lain, lalu nilailah diri anda secara jujur dari mulai gaya bicara, suara yang dikeluarkan, sikap pada waktu berbicara serta mimik anda. Buatlah semacam catatan terutama hal-hal yang tidak anda sukai dan setelah itu buatlah evaluasi. Jadikanlah hasil evaluasi terutama terhadap hal-hal yang tidak anda sukai sebagai DAFTAR DOSA yang tidak boleh diulangi lagi. Dibawah ini anda dapat temui tabel evaluasi yang bisa pergunakan untuk test ini.
*. Gaya dan sikap berbicara*
· Apakah suara saya sengau ?
· Apakah suara saya terdengar tidak konfiden ?
· Apakah suara saya terdengar over confident dan cenderung sombong ?
· Apakah suara saya hilang diujung kalimat ?
· Apakah artikulasi saya tidak jelas ?
· Apakah bicara saya terlalu jelas ?
· Apakah suara saya terlalu lemah ?
· Apakah suara saya seperti orang terjepit ?
· Apakah suara saya terdengar gugup ?
· Apakah cara berdiri saya kaku ?
· Apakah tangan dan anggota tubuh saya terlalu banyak bergerak ?
· Apakah mimik saya tegang ?
· Apakah mimik saya tidak serius ?
· Apakah saya kelihatan sombongRahas/sinis ?
· Apakah saya overacting?
Setelah anda mengetahui kelemahan-kelemahan anda dan mencatatnya sebagai dafatar dosa, berbicaralah sekali lagi dan letakkan daftar tersebut didepan anda. Evaluasilah sekali alagi. Dengan melakukannya berulang-ulang, kelemahan-kelemahan ini biasanya dapat diperbaiki.
*4. Menjadi diri sendri*
Ingin menjadi pembicara yang baik? /Golden rule* */nya adalah jadilah diri anda sendiri. Audiense datang untuk mendengarkan anda berbicara dengan gaya anda. Banyak pembicara yang tidak yakin dengan gayanya sendiri. Ia akhirnya berusaha keras untuk meniru gaya seorang terkenal yang menurutnya baik. Sebagai seorang pembicara, anda harus memanfaatkan segala kelebihan anda agar lama kelamaan menjadi ciri khas anda. Kecuali karakter bicara anda kuat sekali seperti Sambas atau Anita Rachman, gaya bicara seseorang biasanya butuh waktu untuk dikenal dan disukai masyarakat. Seseorang dengan gaya bicara biasa-biasa saja bisa menjadi gaya khasnya apabila dipraktekan terus-menerus.
semoga bermanfaat
salam
Kesadaran masyarakat tentang pentingnya berbicara yang baik dan efisien didepan orang banyak, tumbuh setelah mereka melihat begitu banyak persoalan pelik yang dapat dijelaskan hanya dengan berbicara. Mereka juga mendapatkan tempat terhormat di masyarakat. Namun banyak pula yang merasakan pentingnya mampu berbicara dengan baik karena tuntutan tugas dan profesinya.
Beberapa tips di bawah mungkin dapat membantu “PERCEPATAN” proses latihan anda di dunia public speaking:
*1. Persiapan yang maksimal*
Persiapan yang baik adalah kunci dari penampilan yang meyakinkan. Audiense dengan mudah mengetahui pembicara yang melakukan ”pekerjaan rumah” dengan tampil seadanya. Seorang dengan persiapan optimum akan tampil penuh percaya diri, kata-kata yang diucapkannya mengalir penuh arti disertai mimik yang pas. Sebaliknya, seseorang yang tampil tanpa persiapan yang matang akan tampil grogi, cara berbicara tidak struktural dan esensial, tidak berani mendekati inti permasalahan dan tidak berani menatap mata audiensenya.
*Perlu diketahui berapapun besarnya bakat yang anda punya sebgai pembicara, penampilan yang sukses didapatkan melalui 1% inspirasi 99% melalui persiapan.*
Persiapan yang perlu dilalukan meliputi ;
*1a. Tempat dimana kita akan berbicara*
Pastikan anda mengetahui dengan pasti tempat dimana anda menjadi pembicara, melakukan orasi atau mempresentasikan sesuatu. Anda harus mengetahui apakah tempatnya terbuka, tertutup, ramah, tidak bersahabat dsb. Setiap jenis tempat mempunyai karakter dan penanganan tersendiri yang membutuhkan persiapan tersendiri pula.
Tempat terbuka mengharuskan anda berpakaian yang tidak terlalu tebal. Karena audiensenya yang relatif besar sehuingga susah dikontrol, bersiaplah bebicara dengan volume yang keras dan lantang. Tempat tertutup memungkinkan anda memakai busana yang sedikit tebal (jas, blaser dsb) dan berbicara lebih /private/. Tempat yang tidak ramah misalnya audiensenya dipastikan kebanyakan bukan dari kalangan ”pecinta” anda, mengharuskan anda untuk kerja ekstra. Persiapkan jurus-jurus apabila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Seorang pembicara seperti halnya seorang penyanyi terkadang harus tampil di satu tempat dimana audiensenya tidak selalu ramah.
*Sebagai seorang pembicara, anda harus mengenal medan dimana anda akan berbicara. Hadir paling tidak satu jam sebelum acara dimulai yang dapat anda gunakan untuk melihat situasi tempat anda akan berbicara serta alat-alat bantu yang akan anda gunakan. Hal ini akan sangat membantu anda dalam mengurangi kegugupan.*
* 1b. Materi yang dibicarakan*
Kumpulkan semua sumber informasi yang berhubungan dengan materi yang anda antarkan. Lakukan riset kecil untuk melengkapi referensi-referensi yang sudah anda punyai. Makin banyak informasi makin baik. Rangkum informasi-informasi tersebut dan hafalkan bagian yang akan anda jadikan intro/pembukaan.
Ciptakan sesuatu yang merebut hati audiense (spals/ice breaker) pada saat pertama anda bicara. spals/ice breaker tersebut bisa berbentuk interaksi langsung dengan mereka, cerita-cerita lucu yang berhubungan dengan anda atau materi yang hendak disampaikan, gerakan-gerakan kecil atau menyanyi. spals/ice breaker terkesan spontan padahal sebenarnya ia telah dipersiapkan sebelumnya. Ia adalah bagian dari pekerjaan rumah anda. Kalau anda berhasil melakukannya, sisa dari waktu anda berbicara akan menjadi milik anda.
*1c. Audiense*
Kenli audiense anda sebelum anda bicara. Dapatkan informasi sebanyak mungkin tentang publik yang akan menjadi audiense anda. Dengan mengetahuinya, maka anda akan mampu berbicara dengan pola yang mereka kehendaki. Sebelum naik ke mimbar/panggung, pastikan anda mempunyai waktu untuk bersosialisasi dengan beberapa dari mereka. Perkenalan ini akan membuat anda merasa bagian dari mereka dan ini juga ternyata ampuh untuk mengurangi rasa gugup anda.
*1d. Penampilan fisik*
Ketika anda pertama kali muncul, yang pertama kali akan dinilai oleh audiense adalah penampilan fisik anda. Penilaian ini sudah berlangsung sebelum anda sendiri mulai berbicara. Oleh karena itu pakailah pakaian yang sesuai dengan jenis materi yang akan dibawakan, waktu, tempat dan audiense anda. Perhatikan pula kebersihan dan kerapian tubuh anda dari mulai kuku, rambut, make up serta cara berjalan. Ini adalah saat yang paling genting tapi bisa dimanfaatkan sebagai permulaan yang positif. Inilah saat dimana perhatian audiense anda belum terpecah. Mereka begitu antusias menantikan apa yang hendak anda sampaikan. Oleh karena itu, manfaatkanlah!
*2. Antusiasme*
Tunjukan antusiasme pada waktu berbicara walaupun topik yang anda bawakan kurang bermutu atau terlalu dangkal bagi anda. Sikap anthusisme akan menciptakan respect dari audiense. Sebaliknya sikap anda yang ogah-ogahan atau menganggap remeh hanya akan membuat audiense menyesal ikut dalam forum dimana anda bebicara. Yang lebih tidak baik apabila untuk hadir dalam forum tersebut ia harus membayar. Lebih baik anda menolak daripada anda menerima menjadi pembicara dengan attitude demikian.
*3. Berlatih dan berlatih*
Seorang pembicara hampir sama dengan penerbang (pilot). Makin tinggi jam terbangnya, makin mulus pula take off dan landing serta semakin pintar dalam menghadapi setiap krisis yang timbul. Demikian juga dengan seorang pembicara, makin sering ia latihan dan tampil, makin mahir ia berbicara, bertindak, dan bersikap.
Latihan yang lumrah dilakukan oleh para pembicara dan aktor profesional dan dapat dengan mudah anda lakukan, adalah berbicara didepan cermin atau didepan handycam. Mereka berbicara selama 1 menit dengan topik yang dipilih sendiri, misalnya ”apa yang telah saya capai selama ini?” atau ”apa target hidup saya?”. Coba anda lakukan ini. Berbicara sepertinya anda melakukan didepan publik. Setelah anda bicara atau rekam kalau anda menggunakan handycam, posisikan diri anda sebagai orang lain, lalu nilailah diri anda secara jujur dari mulai gaya bicara, suara yang dikeluarkan, sikap pada waktu berbicara serta mimik anda. Buatlah semacam catatan terutama hal-hal yang tidak anda sukai dan setelah itu buatlah evaluasi. Jadikanlah hasil evaluasi terutama terhadap hal-hal yang tidak anda sukai sebagai DAFTAR DOSA yang tidak boleh diulangi lagi. Dibawah ini anda dapat temui tabel evaluasi yang bisa pergunakan untuk test ini.
*. Gaya dan sikap berbicara*
· Apakah suara saya sengau ?
· Apakah suara saya terdengar tidak konfiden ?
· Apakah suara saya terdengar over confident dan cenderung sombong ?
· Apakah suara saya hilang diujung kalimat ?
· Apakah artikulasi saya tidak jelas ?
· Apakah bicara saya terlalu jelas ?
· Apakah suara saya terlalu lemah ?
· Apakah suara saya seperti orang terjepit ?
· Apakah suara saya terdengar gugup ?
· Apakah cara berdiri saya kaku ?
· Apakah tangan dan anggota tubuh saya terlalu banyak bergerak ?
· Apakah mimik saya tegang ?
· Apakah mimik saya tidak serius ?
· Apakah saya kelihatan sombongRahas/sinis ?
· Apakah saya overacting?
Setelah anda mengetahui kelemahan-kelemahan anda dan mencatatnya sebagai dafatar dosa, berbicaralah sekali lagi dan letakkan daftar tersebut didepan anda. Evaluasilah sekali alagi. Dengan melakukannya berulang-ulang, kelemahan-kelemahan ini biasanya dapat diperbaiki.
*4. Menjadi diri sendri*
Ingin menjadi pembicara yang baik? /Golden rule* */nya adalah jadilah diri anda sendiri. Audiense datang untuk mendengarkan anda berbicara dengan gaya anda. Banyak pembicara yang tidak yakin dengan gayanya sendiri. Ia akhirnya berusaha keras untuk meniru gaya seorang terkenal yang menurutnya baik. Sebagai seorang pembicara, anda harus memanfaatkan segala kelebihan anda agar lama kelamaan menjadi ciri khas anda. Kecuali karakter bicara anda kuat sekali seperti Sambas atau Anita Rachman, gaya bicara seseorang biasanya butuh waktu untuk dikenal dan disukai masyarakat. Seseorang dengan gaya bicara biasa-biasa saja bisa menjadi gaya khasnya apabila dipraktekan terus-menerus.
semoga bermanfaat
salam
Jumat, 15 April 2011
orang goblok dan pintar
kalo orang ’goblok’ itu tak pandai menghitung, makanya lebih cepat mulai usaha.
Kalau orang pinter, menghitungnya ’njlimet’, jadi nggak mulai-mulai usahanya.
Orang ’goblok’ berbisnis tidak berfikir urutan, sedangkan orang pinter, berfikir urut.
Orang pintar tidak percayaan dengan orang lain, jadi semuanya mau dikerjain sendiri, seolah tak ada yang dapat menggantikan dirinya.
Nah, kalau orang ’goblok’, dia akan mencari orang pintar dan harus lebih pintar darinya, untuk menjalankan usahanya.
Orang pintar ketemu gagal, cenderung mencari kambing hitam untk menutupi kekurangannya.
”Ehm, situasi ekonominya lagi down”, atau ”Pemerintah nggak mendukung saya”, kata orang pintar.
Lain hal dengan orang ’goblok’, jika ketemu gagal, nggak merasa kalau dia gagal, karena dia merasa sedang ’belajar’.
Sadarkah Anda bahwa ini adalah perbedaan antara orang Indonesia dgn orang luar?
Sampai kapan kita mau di pandang seperti itu?
Ayo kawand sebagai generasi muda, kita harus mengubah image menjadi lebih baik lagi. agar tak ada lagi anggapan demikian.
di kutip dari sahabat terbaik saya, Andrian, yang berbicara langsung 4mata dengan orang luar negri tersebut.
Kalau orang pinter, menghitungnya ’njlimet’, jadi nggak mulai-mulai usahanya.
Orang ’goblok’ berbisnis tidak berfikir urutan, sedangkan orang pinter, berfikir urut.
Orang pintar tidak percayaan dengan orang lain, jadi semuanya mau dikerjain sendiri, seolah tak ada yang dapat menggantikan dirinya.
Nah, kalau orang ’goblok’, dia akan mencari orang pintar dan harus lebih pintar darinya, untuk menjalankan usahanya.
Orang pintar ketemu gagal, cenderung mencari kambing hitam untk menutupi kekurangannya.
”Ehm, situasi ekonominya lagi down”, atau ”Pemerintah nggak mendukung saya”, kata orang pintar.
Lain hal dengan orang ’goblok’, jika ketemu gagal, nggak merasa kalau dia gagal, karena dia merasa sedang ’belajar’.
Sadarkah Anda bahwa ini adalah perbedaan antara orang Indonesia dgn orang luar?
Sampai kapan kita mau di pandang seperti itu?
Ayo kawand sebagai generasi muda, kita harus mengubah image menjadi lebih baik lagi. agar tak ada lagi anggapan demikian.
di kutip dari sahabat terbaik saya, Andrian, yang berbicara langsung 4mata dengan orang luar negri tersebut.
Senin, 07 Maret 2011
5 skills every Public Relation professional needs
here’s a short list of what I think are the most in-demand and important skills for public relations practitioners.
1. Writing
You will always need to write excellent, persuasive, and grammatically correct copy. Members of today’s texting generation may find it difficult to embrace this more traditional public relations skill, but they will have to embrace it to be successful.
The shift here is that the audience for which public relations practitioners are writing has changed. It no longer comprises full-time journalists. Given today’s social media tools and the Internet in general, public relations pros write as much for the end-user—the target audience—as they do for the media.
Also, the writing that public relations practitioners do has changed based on the screen for which they’re writing—TV, computer, tablet, mobile phone, etc.—and the publication: traditional or digital, in a newsletter, e-mail, magazine, blog, newspaper, etc.
2. Creativity
Given the complexity of today’s communication channels and the amount of information each of us is bombarded with every day (probably more than our grandparents consumed in a year), it’s incumbent upon professional communicators to be creative in how they craft and deliver messages.
Creativity goes into everything that a good public relations professional does. It applies to the development of every message and delivery mechanism. It applies to how PR pros represent their employers or clients, and to the kinds of activities and events they produce.
3. Familiarity with publishing tools
With the advent of the Internet and social media tools, the public relations toolkit has exploded. In only a handful of years, we’ve gone from perhaps a half-dozen media channels to hundreds, if not thousands. Today’s public relations professional should be familiar with the myriad traditional and digital communication channels, so he or she can identify the best opportunity for his or her client, employer, etc.
4. Professionalism
In a profession so often belittled and criticized, the core values of advocacy, honesty, expertise, independence, loyalty, and fairness are important for the serious public relations practitioner.
5. People skills
An accomplished public relations professional is good with people. The profession needs people who unite, not divide. People who help others get along and enjoy working to foster better communication in our sometimes-confrontational world.
In the words of Michael Jackson, public relations needs people who would agree with his statement: “I’m a lover, not a fighter.”
1. Writing
You will always need to write excellent, persuasive, and grammatically correct copy. Members of today’s texting generation may find it difficult to embrace this more traditional public relations skill, but they will have to embrace it to be successful.
The shift here is that the audience for which public relations practitioners are writing has changed. It no longer comprises full-time journalists. Given today’s social media tools and the Internet in general, public relations pros write as much for the end-user—the target audience—as they do for the media.
Also, the writing that public relations practitioners do has changed based on the screen for which they’re writing—TV, computer, tablet, mobile phone, etc.—and the publication: traditional or digital, in a newsletter, e-mail, magazine, blog, newspaper, etc.
2. Creativity
Given the complexity of today’s communication channels and the amount of information each of us is bombarded with every day (probably more than our grandparents consumed in a year), it’s incumbent upon professional communicators to be creative in how they craft and deliver messages.
Creativity goes into everything that a good public relations professional does. It applies to the development of every message and delivery mechanism. It applies to how PR pros represent their employers or clients, and to the kinds of activities and events they produce.
3. Familiarity with publishing tools
With the advent of the Internet and social media tools, the public relations toolkit has exploded. In only a handful of years, we’ve gone from perhaps a half-dozen media channels to hundreds, if not thousands. Today’s public relations professional should be familiar with the myriad traditional and digital communication channels, so he or she can identify the best opportunity for his or her client, employer, etc.
4. Professionalism
In a profession so often belittled and criticized, the core values of advocacy, honesty, expertise, independence, loyalty, and fairness are important for the serious public relations practitioner.
5. People skills
An accomplished public relations professional is good with people. The profession needs people who unite, not divide. People who help others get along and enjoy working to foster better communication in our sometimes-confrontational world.
In the words of Michael Jackson, public relations needs people who would agree with his statement: “I’m a lover, not a fighter.”
Rabu, 12 Januari 2011
4 Kesalahan Orang Baru Putus Cinta
Bagaimana Anda bisa memastikan bahwa mantan kekasih adalah belahan jiwa yang Anda cari? Anda tentu tidak bisa memastikan. Karena itu, tak perlu sedih berlebihan bila cinta Anda baru dicampakkan.
BAGAIMANA Anda bisa memastikan bahwa mantan kekasih adalah belahan jiwa yang Anda cari? Anda tentu tidak bisa memastikan. Karena itu, tak perlu sedih berlebihan bila cinta Anda baru dicampakkan.
Meyakini diri satu-satunya orang yang paling bersedih karena putus cinta tentu berdampak buruk bagi kesehatan mental. Simak empat kesalahan yang biasa dilakukan orang baru putus cinta, seperti dilansir dari Lemondrop.
Masih berharap dihubungi
Semuanya sudah berakhir. Jadi sadari bahwa dia tak lagi cinta dan mau menghubungi Anda. Meski ego masih belum bisa menerima keputusannya, Anda harus berani memutuskan komunikasi supaya bisa cepat move on dan membina hubungan baru. Begitupun mantan kekasih; semakin dia cepat lupa dengan Anda, semakin cepat dia akan dapat kekasih baru.
Terlalu yakin sikap teguh hati akan berbuah baik
Banyak cerita kegigihan menjaga cinta akan berbuah baik, tapi tak perlu berkecil hati jika mimpi indah itu belum Anda miliki.
Menjadi single sampai akhirnya Anda benar-benar menemukan seseorang yang klik tentu pun bukan sebuah aib. Karena itu, mulai kini tetapkan strategi baru lebih ampuh guna meraih cinta idaman hati, berkaca dari kesalahan hubungan di masa lalu.
Lupa bahwa keluarga dan teman siap menampung kesedihan
Keluarga dan teman-teman adalah orang-orang terbaik bagi hidup Anda. Mereka bisa memberikan cinta tanpa syarat, suatu hal langka yang pasti Anda butuhkan.
Masalahnya, kita sering lupa bahwa keluarga dan teman-teman siap menawarkan cinta tak terbatas saat kita putus cinta. Melegakan bila Anda bisa curhat tentang perasaan dengan seseorang yang Anda percaya.
Sering mengenang memori cinta
Anda masih senang berjibaku dengan kenangan cinta masa lalu lewat foto, barang pemberian, email, atau apapun tentangnya? Jangan menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia dan membuat Anda makin terjebak di dalamnya. Bukalah diri dan hati untuk bisa menerima orang dan cinta baru. Juga, jangan anggap bahwa perpisahan Anda adalah kesalahan sendiri.
BAGAIMANA Anda bisa memastikan bahwa mantan kekasih adalah belahan jiwa yang Anda cari? Anda tentu tidak bisa memastikan. Karena itu, tak perlu sedih berlebihan bila cinta Anda baru dicampakkan.
Meyakini diri satu-satunya orang yang paling bersedih karena putus cinta tentu berdampak buruk bagi kesehatan mental. Simak empat kesalahan yang biasa dilakukan orang baru putus cinta, seperti dilansir dari Lemondrop.
Masih berharap dihubungi
Semuanya sudah berakhir. Jadi sadari bahwa dia tak lagi cinta dan mau menghubungi Anda. Meski ego masih belum bisa menerima keputusannya, Anda harus berani memutuskan komunikasi supaya bisa cepat move on dan membina hubungan baru. Begitupun mantan kekasih; semakin dia cepat lupa dengan Anda, semakin cepat dia akan dapat kekasih baru.
Terlalu yakin sikap teguh hati akan berbuah baik
Banyak cerita kegigihan menjaga cinta akan berbuah baik, tapi tak perlu berkecil hati jika mimpi indah itu belum Anda miliki.
Menjadi single sampai akhirnya Anda benar-benar menemukan seseorang yang klik tentu pun bukan sebuah aib. Karena itu, mulai kini tetapkan strategi baru lebih ampuh guna meraih cinta idaman hati, berkaca dari kesalahan hubungan di masa lalu.
Lupa bahwa keluarga dan teman siap menampung kesedihan
Keluarga dan teman-teman adalah orang-orang terbaik bagi hidup Anda. Mereka bisa memberikan cinta tanpa syarat, suatu hal langka yang pasti Anda butuhkan.
Masalahnya, kita sering lupa bahwa keluarga dan teman-teman siap menawarkan cinta tak terbatas saat kita putus cinta. Melegakan bila Anda bisa curhat tentang perasaan dengan seseorang yang Anda percaya.
Sering mengenang memori cinta
Anda masih senang berjibaku dengan kenangan cinta masa lalu lewat foto, barang pemberian, email, atau apapun tentangnya? Jangan menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia dan membuat Anda makin terjebak di dalamnya. Bukalah diri dan hati untuk bisa menerima orang dan cinta baru. Juga, jangan anggap bahwa perpisahan Anda adalah kesalahan sendiri.
Selasa, 04 Januari 2011
Etika pertemanan
Etika pertemanan adalah hal yang cukup krusial dalam pembelajaran untuk menjadi seorang yang berkelas.1. Jaga ucapan di situs jejaring sosial
Hati-hati, mata pena lebih tajam dari mata pisau. Seringkali, karena sudah merasa terlalu dekat, Anda kerap melontarkan ucapan yang bisa menyakiti teman. Parahnya lagi, ucapan ini dilontarkan di situs jejaring sosial yang bisa dilihat semua orang. Contohnya, saat melihat foto teman di Facebook, Anda menulis delapan kata mematikan di bawah foto itu, "Kamu terlihat sangat amat gemuk di foto ini." Akibat ucapan tanpa pikir panjang ini, persahabatan Anda jadi bermasalah.
Sebaiknya, jika hendak melontarkan sesuatu yang terlalu sensitif dan personal, tahan diri, dan ucapkan langsung saat berada di hadapannya.
2. Hindari opini yang terlalu frontal
"Elizabeth Taylor sangat gemuk, ia bahkan menaruh mayonnaise di sebuah aspirin," contoh komentar kasar dari aktris Joan Rivers
3. Be rude
Ya. seorang lady tahu persis kapan harus membela diri. Jika seorang teman atau bahkan teman kencan mencoba mengambil keuntungan dari Anda sekali-kali bersikap kasarlah. Tunjukkan bahwa Anda tidak suka diperlukan seperti itu dan ingin dihargai. Tak perlu bertahan untuk bersikap manis jika hati Anda tak berkata demikian. Be honest. That's the key darling.
Hati-hati, mata pena lebih tajam dari mata pisau. Seringkali, karena sudah merasa terlalu dekat, Anda kerap melontarkan ucapan yang bisa menyakiti teman. Parahnya lagi, ucapan ini dilontarkan di situs jejaring sosial yang bisa dilihat semua orang. Contohnya, saat melihat foto teman di Facebook, Anda menulis delapan kata mematikan di bawah foto itu, "Kamu terlihat sangat amat gemuk di foto ini." Akibat ucapan tanpa pikir panjang ini, persahabatan Anda jadi bermasalah.
Sebaiknya, jika hendak melontarkan sesuatu yang terlalu sensitif dan personal, tahan diri, dan ucapkan langsung saat berada di hadapannya.
2. Hindari opini yang terlalu frontal
"Elizabeth Taylor sangat gemuk, ia bahkan menaruh mayonnaise di sebuah aspirin," contoh komentar kasar dari aktris Joan Rivers
3. Be rude
Ya. seorang lady tahu persis kapan harus membela diri. Jika seorang teman atau bahkan teman kencan mencoba mengambil keuntungan dari Anda sekali-kali bersikap kasarlah. Tunjukkan bahwa Anda tidak suka diperlukan seperti itu dan ingin dihargai. Tak perlu bertahan untuk bersikap manis jika hati Anda tak berkata demikian. Be honest. That's the key darling.
Langganan:
Komentar (Atom)
