Korupsi merupakan praktik pencurian uang negara
yang sejak awal dilakukan penuh kesengajaan oleh para pelakunya. Di mulai dari
kasus Nazarudin, Mindo Rosalina Manulang, Angelina Sondakh dan Anas Urbaningrum
tak pernah luput dari terpaan media. Babak demi babak selalu di ikuti oleh
media. Hal ini tentu menyudutkan posisi partai Demokrat sebagai partai
penguasa. Dan masyarakat pun pasti terkena terpaan dari pemberitaan media
tersebut.
Merasa
bahwa media massa terlalu menyudutkan partai Demokrat, fungsionaris
Partai Demokrat mengadukan dua televisi berita nasional ke Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI), Kamis (23/2). Diwakili Wakil Sekretaris Pemenangan Pemilu DPP
Partai Demokrat, Ferry Juliantono, menuding pemberitaan kedua stasiun televisi yaitu
Metro TV dan TV One, menyebabkan pencitraan Partai Biru menjadi buruk. Selain
itu, pemberitaan kedua televisi nasional itu dinilai sarat kepentingan politik,
agar tingkat kepercayaan publik menjadi berkurang kepada Partai Demokrat.
Dalam
studi kasus ini, kita dapat meneliti lebih lanjut dari beberapa aspek yang
terkait. Pertama, di lihat dari sisi media massa, sebagai komunikator yang
memberitakan mengenai korupsi dalam tubuh partai Demokrat. Menurut studi ilmu
yang saya pelajari, media massa yang memberitakan berita tersebut tidak
bersalah. Untuk memberitakan suatu
peristiwa, wartawan tidak sembarang menulis berita. Pemberitaan selalu
dikembalikan pada kriteria dasar nilai berita yaitu memiliki magnitude yang
kuat, melibatkan tokoh besar, aktual, berkaitan dengan pemirsa (proximity).
Jadi, tidak salah jika mereka memberitakan berita tersebut, selama kasus
tersebut masih berlangsung.
Kedua,
jika dilihat dari sisi efek yang di timbulkan dari pemberitaan di media massa. Dalam
kasus ini, teori yang melandasi adalah teori jarum hipodermik. Teori jarum
hipodermik secara garis besar menganggap bahwa informasi yang terdapat di media
massa memiliki efek langsung pada khalayak. Efeknya adalah bila pemberian
informasi cukup kuat, maka akan mempengaruhi penerima. Oleh karena itu,
pemikiran masyarakat mengenai partai biru tersebut berubah karena pemberitaan
di media.
Hal
ini bagaikan dua buah sisi mata uang. Di satu sisi wartawan sebagai pelaku
media massa, telah menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan - aturan yang
berlaku. Di sisi lain, akibat pemberitaan yang terus – menerus, masyarakat
terkena terpaan media. Masyarakat menjadi memiliki persepsi berbeda terhadap
partai Demokrat. Namun permasalahan ini dirasa dapat ditengahi, apabila ada
action yang dilakukan oleh kubu partai penguasa tersebut.
Demokrat
adalah sebuah organisasi yang tentu saja memiliki struktur pengurus yang
memadai dalam menangani dalam berbagai permasalahan. Tetapi mengapa dalam
permasalahan ini, demokrat tidak memanfaatkan kadernya secara tepat guna. Di
saat terguncang kasus korupsi di tubuh partainya, tidak ada seorang pun dari
divisi komunikasi publik yang menjembatani antara partainya dengan media.
Partai
Demokrat memiliki sebuah divisi yang bertugas untuk menjembatani partainya
dengan media, yaitu divisi komunikasi publik. Divisi ini di ketuai oleh Andi
Nurpati, sedangkan sekertarisnya di tempati oleh Hinca IP Panjaitan. Krisis management yang dialami oleh
partai Demokrat setidaknya dapat diminimalisir dengan adanya divisi tersebut. Namun
divisi ini hanya berdiam diri, tak bergeming menyelesaikan krisis management
akibat korupsi di kubunya.
Belakangan ini sudah tidak terdengar lagi kabar
tentang Andi Nurpati. Setelah kasus yang menjeratnya tahun lalu soal surat
palsu MK, walaupun tidak terbukti ia tidak bersalah. Sampai saat ini wanita
berkerudung ini sudah tak terdengar lagi dan juga jarang lagi muncul di tivi.
Bahkan di saat kasus korupsi dan juga pengaduan partainya kepada KPI, Andi tak
kunjung berperan dalam menjaga citra baik partai.
Fakta ini membuktikan bahwa memang divisi di
tubuh partai Demokrat tidaklah tepat guna. Managementnya tidak berjalan
sebagaimana fungsi sebenarnya. Dan juga partai ini di rasa tidak akan memiliki
hubungan yang baik dengan awak media. Ini dikarenakan kasus pengaduan terhadap
2 stasiun TV tersebut. Sungguh ini adalah kejadian yang sangat fatal bagi
partai Demokrat.
Lantas mau di bawa kemana kah partai Demokrat? Apakah tidak menata kembali partainya? Atau bahkan menunggu keruntuhan partainya karena kasus korupsi yang kian terungkap. Masyarakat telah berpandangan negatif tentang partai penguasa ini. Maka ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan kader partai Demokrat, terutama divisi komunikasi publik. Perbaikilah hubungan dengan media dan tuntaskan semua kasus yang membelit, sehingga dapat mengikis persepsi negatif mengenai partai Demokrat.
Lantas mau di bawa kemana kah partai Demokrat? Apakah tidak menata kembali partainya? Atau bahkan menunggu keruntuhan partainya karena kasus korupsi yang kian terungkap. Masyarakat telah berpandangan negatif tentang partai penguasa ini. Maka ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan kader partai Demokrat, terutama divisi komunikasi publik. Perbaikilah hubungan dengan media dan tuntaskan semua kasus yang membelit, sehingga dapat mengikis persepsi negatif mengenai partai Demokrat.